wawancara
NAMA : ALI MAKKI
NIM : 2013-21-00-11
PRODI : ILMU ADM. NEGARA
Bahan
pertanyaan:
1. Bagaimana
seharusnya tindakan seorang pemimpin dalam menanggapi hal-hal yang bersifat
dilematis?
2.
Bagaiamna tanggapan saudara dalam menghadapi
modernisasi dan globalisasi kaitannya dengan kepemimpinan yang representatif?
Dan,
3. Apa
saran konstruktif dari saudara?
Ulasan
hasil wawancara:
1. Mari
kita sepakati bersama terlebih dahulu, bahwa, seorang pemimpin bukan dilahirkan
melainkan dibentuk, sekaligus dengan sendirinya ‘dibebani’ dua fungsi utama
yang harus dia ‘pakai’ dalam menejerial kepemimpinannya. Pertama, pemimpin harus mampu menjadi katup penyelamat sosial (security social), hal ini bisa
diimplementasikan dengan membuka ruang diskursif selebar-lebarnya guna membentuk
masyarakat yang sadar kondisi dan kritis ketika menghadapi problematika
tertentu. Kedua, seorang pemimpin
dituntut lebih berkeadilan (justice)
dan mempunyai kecakapan diplomatis-konsolidatif. Dari konsepsi dasar ini, dalam
menghadapi hal-hal yang bersifat dilematis dalam sosialnya, seorang pemimpin
harus bisa mempertemukan kepentingan-kepentingan secara berkeadilan. Polarisasi
seperti ini, hemat saya, lebih menjurus pada pemaksimalan komunikasi politik
yang efektif, dan ruang publik (public
spehere) yang memadai. Sebab, saya sepakat sama Adorno dan Cuzer dalam
membincang akan selalu terjadi konflik –atau dalam istilah saudara, hal-hal
dilematis—sebagai spirit tersendiri
untuk sosial ke arah integritas absolut sejauh ‘katup penyelamat’ bisa
berfungsi secara signifikan. Maka, katup penyelamat di sini saya artikan dengan
fungsi dan peran seorang pemimpin sebagai akomodir pelbagai kepentingan
oknum-oknum tertentu. Lebih lanjut, kecakapan dalam hal-hal diplomatis sudah seharusnya menjadi ruh bagi seorang
pemimpin sebagai upaya penguatan kordinasi di kancah politik global. Sehingga,
sepakat sama Pak Prabowo, musuh satu sudah terlalu banyak dalam konstelasi perpolitikan
internasional. Mungkin itu, bagi saya secara singkat.
2.
Secara kasat mata, modernisasi dan
globalisasi secara perlahan menggerus nilai-nilai lokal khas milik kita.
Jikalau modernisasi memimpikan masyarakat yang liberal, toleransi, dan
terkonstitusi, maka saya tegaskan, globalisasi juga demikian dengan sudah
terkoptasinya ‘raksasa modal asing’ dengan mudah masuk ke negara-negara
berkembang dengan alih-alih globalitas yang realistis demi kesejahteraan
masyarakat setempat. Sehingga, kalau sistem politik yg efektif dianggap
tergantung budaya masyarakat setempat (budaya politik), maka budaya politik
yang seperti apa dan bagaimana? Toh, kita saja belum bisa mengintegrasikan
nilai-nilai lokal (local wisdom) kita
dengan sistem politik yang kita terapkan saat ini dalam keseharian kita.
Alhasil, seorang pemimpin seyogyanya lebih bisa tegas dalam menanggapi
dinamika-dinamika sosial seperti ini. Lebih lanjut, menurut saya, pemaksimalan
UU Pasal 74 No. 40 tahun 2007 dan UU No. 25 tahun 2007 setidaknya menjadi
salah-satu filterasi yang tepat. Pemimpin yang pro rakyat dan mengusung
semangat perubahan berkelanjutan seperti itulah yang lama kita idamkan. Sampai
kapan kita menjadi ‘tikus’ yang selalu sekarat di ‘lumbung padi’ kita sendiri?
Sampai kapan bendera merah putih kita hanya bisa berkibar dengan malu-malu? Dan
sampai kapan garuda kita, kita biarkan menangis dan daya cengkramannya pada
‘Bhineka Tunggal Ika’ mulai mengendor? Silahkan anda tanggapi sendiri.
3. Saran
saya singkat; belajar konsepsi kemajuan di luar negara kita itu perlu, tapi
jauh lebih penting menciptakan sistem politik yang pro keadilan dan siap saling
berpangku tangan sesama saudara-bangsa. If
Not Now? When?, If Not We? Who? Untuk Indonesia, Yakin Usaha Sampai
(YAKUSA!).
Profil Narasumber
Nama : Moh. Maisur
Tempat,
Tanggal Lahir :
Sumenep, 29 Juni 1993
Alamat
di Malang :
Jl. Sunan Kalijaga Dalam No. 03 Merjosari Malang
Pendidikan
Sekarang : Ilmu
Politik Universitas Brawijaya
Organisasi
: Himapolitik
FISIP Brawijaya
Kader HMI KISIP Brawijaya
Kordinator Komunitas Simpang Tiga (KASTA)
Motto
: Sambil ngopi, untuk Ilusi Pasti, bukan
Basa-basi apalagi mencari Sensasi, melainkan konklusi yang pasti kita hadapi.
Komentar
Posting Komentar